ETIKA BISNIS
4EA29
Nama Kelompok : Dinar Fatimah (12213543)
Hanifah Tri Sediaswati (13213897)
Jhon Willyngter Sirait (14213642)
Sandra Dewi Effendi (18213227)
UNIVERSITAS GUNADARMA
SEMESTER PTA 2016/2017
BAB 8
Pengertian budaya organisasi dan perusahaan,
hubungan budaya dan etika, kendala dalam mewujudkan kinerja bisnis etis
A. BUDAYA ORGANISASI
Budaya organisasi adalah
sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu
organisasi dari organisasi-organisasi lainnya. Sistem makna bersama ini adalah
sekumpulan karakteristik kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi.Penelitian menunjukkan bahwa
ada tujuh karakteristik utama yang secara keseluruhan, merupakan hakikat budaya
organisasi.
1. Inovasi dan
keberanian mengambil risiko. Sejauh mana karyawan didorong untuk bersikap
inovatif dan berani mengambil risiko.
2. Perhatian pada
hal-hal rinci. Sejauh mana karyawan diharapkan menjalankan presisi, analisis,
dan perhatian pada hal-hal detail.
3. Orientasi hasil.
Sejauh mana manajemen berfokus lebih pada hasil ketimbang pada teknik dan
proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.
4. Orientasi orang.
Sejauh mana keputusan-keputusan manajemen mempertimbangkan efek dari hasil
tersebut atas orang yang ada di dalam organisasi.
5. Orientasi tim.
Sejauh mana kegiatan-kegiatan kerja di organisasi pada tim ketimbang pada
indvidu-individu.
6. Keagresifan. Sejauh
mana orang bersikap agresif dan kompetitif ketimbang santai.
7. Stabilitas. Sejauh
mana kegiatan-kegiatan organisasi menekankan dipertahankannya status quo dalam
perbandingannya dengan pertumbuhan.
B. FUNGSI BUDAYA ORGANISASI
menurut pendapat Siagian
(1992:153) mencatat lima fungsi penting budaya organisasi, yaitu:
1. Sebagai penentu
batas-batas perilaku dalam arti menentukan apa yang boleh dan tidak boleh
dilakukan, apa yang dipandang baik atau tidak baik, menentukan yang benar dan
yang salah.
2. Menumbuhkan jati
diri suatu organisasi dan para anggotanya.
3. Menumbuhkan komitmen
sepada kepentingan bersama di atas kepentingan individual atau kelompok
sendiri.
4. Sebagai tali
pengikat bagi seluruh anggota organisasi.
5. Sebagai alat
pengendali perilaku para anggota organisasi yang bersangkutan.
C. PEDOMAN TINGKAH LAKU
Antara manusia dan
kebudayaan terjalin hubungan yang sangat erat, sebagaimana yang diungkapkan
oleh Dick Hartoko bahwa manusia menjadi manusia merupakan kebudayaan. Hampir
semua tindakan manusia itu merupakan kebudayaan. Hanya tindakan yang sifatnya
naluriah saja yang bukan merupakan kebudayaan, tetapi tindakan demikian
prosentasenya sangat kecil. Tindakan yang berupa kebudayaan tersebut dibiasakan
dengan cara belajar. Terdapat beberapa proses belajar kebudayaan yaitu proses
internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi.
Selanjutnya hubungan antara
manusia dengan kebudayaan juga dapat dilihat dari kedudukan manusia tersebut
terhadap kebudayaan. Manusia mempunyai empat kedudukan terhadap kebudayaan
yaitu sebagai :
1. Penganut kebudayaan
2. Pembawa kebudayaan
manipulator kebudayaan
3. Pencipta kebudayaan
Hal yang dilakukan oleh
manusia inilah kebudayaan. Kebudayaan yang digunakan manusia dalam menyelesaikan
masalah-masalahnya bisa kita sebut sebagai way of life, yang digunakan individu
sebagai pedoman dalam bertingkah laku.
D. Apresiasi Budaya
Istilah apresiasi
berasal dari bahasa inggris "apresiation" yang berarti penghargaan,penilaian,pengertian.
Bentuk itu berasal dari kata kerja " ti appreciate" yang berarti
menghargai, menilai,mengerti dalam bahasa indonesia menjadi mengapresiasi.
Apresiasi budaya adalah kesanggupan untuk menerima dan memberikan penghargaan,
penilaian, pengertian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal
manusia.
Kebudayaan perlu diapresiasi
dengan harapan kita sebagai manusia dapat memperlihatkan rasa menghargai karya
yang dihasilkan dari akal dan budi manusia. Apresiasi diperlukan untuk tetap
menjaga nilai-nilai budaya yang ada agar tetap hidup dan selalu lestari, juga
dapat dikembangkan menjadi lebih baik. Melalui apresiasi, seorang pencipta
dapat memperoleh masukan, ide, saran, kritik, dan pujian untuk karyanya.
Melalui ide, saran, masukan, dan kritik tersebut jugalah para pencipta
diharapkan dapan membuat karya yang lebih baik lagi.
E. HUBUNGAN ETIKA DAN BUDAYA
Etika pada dasarnya adalah
standar atau moral yang menyangkut benar-salah, baik-buruk. Dalam kerangka
konsep etika bisnis terdapat pengertian tentang etika perusahaan, etika kerja,
dan etika perorangan, yang menyangkut hubungan-hubungan sosial antara
perusahaan, karyawan dan lingkungannya. Etika perusahaan menyangkut hubungan
perusahaan dan karyawan sebagai satu kesatuan dengan lingkungannya (misalnya
dengan perusahaan lain atau masyarakat setempat), etika kerja terkait antara
perusahaan dengan karyawannya, dan etika perorangan mengatur hubungan antar
karyawan.
Perilaku etis yang telah
berkembang dalam perusahaan menimbulkan situasi saling percaya antar perusahaan
dan stakeholder, yang memungkinkan perusahaan meningkatkan keuntungan jangka
panjang. Perilaku etis akan mencegah pelanggan, pegawai dan pemasok bertindak
oportunis, serta tumbuhnya saling percaya.
Budaya perusahaan memberi
kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan perilaku etis, karena budaya
perusahaan merupakan seperangkat nilai dan norma yang membimbing tindakan
karyawan. Budaya dapat mendorong terciptanya perilaku, dan sebaliknya dapat
pula mendorong perilaku yang tidak etis. Kebijakan perusahaan untuk memberikan
perhatian serius pada etika perusahaan akan memberikan citra bahwa manajemen
akan mendukung perilaku etis dalam perusahaan.
F. PENGARUH ETIKA TERHADAP BUDAYA
Etika seseorang dan etika
bisnis adalah satu kasatuan yang terintegrasi sehingga tidak dapat dipisahkan
satu dengan yang lainnya, keduanya saling melengkapi dalam mempengaruhi
perilaku antar individu maupun kelompok, yang kemudian menjadi perilaku
organisasi yang akan berpengaruh terhadap budaya perusahaan. Jika etika menjadi nilai dan keyakinan yang
terinternalisasi dalam budayau perusahaan, maka akan berpotensi menjadi dasar
kekuatan perusahaan dan akhirnya akan berpotensi menjadi stimulus dalam peningkatan
kinerja karyawan.
Terdapat pengaruh yang
signifikan antara etika seseorang dariu tingkatan manajer terhadap tingkah laku
etis dalam pengambilan keputusan.
Kemampuan seorang profesional untuk dapat mengerti dan pekau terhadap
adanya masalah etika dalam profesinya sangat dipengaruhi oleh lingkungan,
sosial budaya, dan masyarakat dimana dia berada. Budaya perusahaan memberikan sumbangan yang
sangat berartiu terhadap perilaku etis. Perusahaan akan menjadi lebih baik jika
mereka membudayakan etika dalam lingkungan perusahaannya.
G. Kendala dalam Mewujudkan Kinerja Bisnis yang
Etis
Mentalitas para pelaku
bisnis, terutama top management yang secara moral rendah, sehingga berdampak
pada seluruh kinerja Bisnis. Perilaku perusahaan yang etis biasanya banyak
bergantung pada kinerja top management, karena kepatuhan pada aturan itu
berjenjang dari mulai atas ke tingkat bawah. Kendala dalam Mewujudkan Kinerja
Bisnis yang Etis, yaitu :
1. Faktor budaya masyarakat
yang cenderung memandang pekerjaan bisnis sebagai profesi yang penuh dengan
tipu muslihat dan keserakahan serta bekerja mencari untung. Bisnis merupakan
pekerjaan yang kotor. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat kita
memiliki persepsi yang keliru tentang profesi bisnis.
2. Faktor sistem politik dan sistem kekuasaan
yang diterapkan oleh penguasa sehingga menciptakan sistem ekonomi yang jauh
dari nilai-nilai moral. Hal ini dapat terlihat dalam bentuk KKN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar